Cobalah untuk mengawali hari anda dengan niat untuk memberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil dan tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan uang receh yang tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan: diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga. Atau, anda sedang berada di mobil ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta. Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keeping kepada mereka.
Barangkali ada rasa enggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorangpun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang “berlatih” memberi; mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti? Rasakan saja, kini sesuatu mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.
Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya bukan receh atau berlian yang anda berikan. Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.
Selasa, 06 September 2011
Sabtu, 03 September 2011
Kain - Kain Rombeng
Allah telah mengajarkan kita untuk bersyukur, satu kata yang jauh lebih luas maknanya daripada terimakasih. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
“Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu persatu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal jahiliah.” (‘Umar ibn Al-Kaththab)
Jahiliah, kata ini begitu identik dengan buta huruf, tidak kenal etika, kemiskinan, keterbelakangan. Tapi jika kita mengenal Abu Jahl, si biang kejahilan pada masa Rasulullah, sangat tidak sesuai dengan kata-kata diatas. Abu Jahl adalah seseorang yang memiliki kedudukan di pemerintahan kota mekkah, sangat jauh dari keterbelakang ataupun kebodohan. Dan tidak mungkin orang tuanya memberikan nama begitu buruk kepada anaknya. Jadi, mengapa ia lebih terkenal sebagai Abu Jahl?
Yup, ternyata definisi jahiliah yang menjadi sasaran da’wah para rasul adalah untuk diangkat dari kegelapan menuju cahaya tidak terkait langsung dengan buta huruf, kemiskinan, keterbelakangan. Not that! Jahiliah telah menemukan jati dirinya sebagai penyakit yang menjangkiti keyakinan. Ia adalah rabun yang mengacaukan pandangan terhadap hakikat kehidupan, kemanusiaan dan peribadahan.
Jahiliah bisa lahir dari rahim ketidaktahuan yang diiringi oleh persangkaan. Dari kedunguan dan logika yang dipaksakan. Dari kesalahpahaman yang terwarisi. Tapi tak jarang jahiliah bersumber dari oknum berpengetahuan yang sombong dan gengsi atau kekuasaan menindas yang tak ingin kehilangan posisi. Seperti kecurangan ekonomi pada kaum Syu’aib penduduk Aikah, penyimpangan seksual penduduk Sodom, Fir’aun yang semene-mena, kekayaan yang melenakan Qarun dan masih banyak lagi.
Okay, ini bukan soal pemenuhan kebutuhan. Karena kini orientasi massa telah diubah dari need kepada want. Dan celakanya, terkadang kita tidak bisa membedakan antara need dan want. Bukan soal punya uang atau tidak punya uang. Ini soal eksploitasi –ekonomi, budaya, bahkan politik- terhadap konsumen dengan imaji-imaji sesat. Iklan telah mengajarkan bahwa wanita dihargai hanya sebatas kilau rambut, kemulusan wajah, dan putihnya kulit. Iklan telah mendidik kita untuk menstandarkan kebenaran pada penilaian manusia kebanyakan tanpa nalar dan sikap kritis. Inilah varises yang menyerang pembuluh peradaban dan kemanusiaan. Bahkan di sini, di dalam rumah kita, benda-benda telah menjadi rujukan utama dalam menyikapi kehidupan. Ukuran mulia dan hina telah terjenjang dalam besaran materi.
Logika untung-rugi inilah salah satu urat hidup jahiliah. Dalam sejarah, ia menjangkiti para pemuka dan pemimpin kaum. Karena logika ini, Fir’aun menuduh Musa ingin merebut kekuasaannya. Atas nalar yang sama, Nuh, Huud, Shalih dan yang lainnya tertuduh menjadi penghasut golongan lemah dan hina untuk mengancam stabilitas ‘negeri yang damai’. Dengan logika untung-rugi ini jugalah Abu Lahab, seperti Abu Jahl jauh dari kebodohan dalam makna asosiatif yang melekat dalam benak kita, menentang ajaran Rasul.
Berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Like a butterfly. Hati—hatilah jika ia sempat bertelur di lekuk-lekuk otak, maka ia menjadi teori-teori ilmiah, riset-riset empiris, dan subjektivitas yang diobjektivitaskan. Dan disembah.
Berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Like a butterfly. Hati—hatilah jika ia sempat bertelur di labirin hati. Jadilah ia berhala terbesar yang akan bertahta dalam jiwa. Namanya, hawa nafsu. Dan disembah.
Generasi awal kemunafikan menganggap imannya para sahabat adalah iman orang-orang bodoh. Dan kita saksikan masa kininya menganggap orang-orang yang ingin menegakkan keimanan utuh sebagaimana para sahabat, iman yang kaffah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai orang-orang kolot dan primitif yang bodoh terhadap perkembangan zaman.
Matarantai jahiliah ini akan terus membentang sepanjang sejarah. Rasio bebas dan mistisme, kedua gejala ini adalah jahiliah yang menyusup. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan oleh ‘Umar ibn Al-kaththab pada hadits diatas. Semua ini dihubungkan oleh satu benang merah :syirk. Semua kehancuran bermuasal dari satu hal:jahiliah.
Yup, ternyata definisi jahiliah yang menjadi sasaran da’wah para rasul adalah untuk diangkat dari kegelapan menuju cahaya tidak terkait langsung dengan buta huruf, kemiskinan, keterbelakangan. Not that! Jahiliah telah menemukan jati dirinya sebagai penyakit yang menjangkiti keyakinan. Ia adalah rabun yang mengacaukan pandangan terhadap hakikat kehidupan, kemanusiaan dan peribadahan.
Jahiliah bisa lahir dari rahim ketidaktahuan yang diiringi oleh persangkaan. Dari kedunguan dan logika yang dipaksakan. Dari kesalahpahaman yang terwarisi. Tapi tak jarang jahiliah bersumber dari oknum berpengetahuan yang sombong dan gengsi atau kekuasaan menindas yang tak ingin kehilangan posisi. Seperti kecurangan ekonomi pada kaum Syu’aib penduduk Aikah, penyimpangan seksual penduduk Sodom, Fir’aun yang semene-mena, kekayaan yang melenakan Qarun dan masih banyak lagi.
Okay, ini bukan soal pemenuhan kebutuhan. Karena kini orientasi massa telah diubah dari need kepada want. Dan celakanya, terkadang kita tidak bisa membedakan antara need dan want. Bukan soal punya uang atau tidak punya uang. Ini soal eksploitasi –ekonomi, budaya, bahkan politik- terhadap konsumen dengan imaji-imaji sesat. Iklan telah mengajarkan bahwa wanita dihargai hanya sebatas kilau rambut, kemulusan wajah, dan putihnya kulit. Iklan telah mendidik kita untuk menstandarkan kebenaran pada penilaian manusia kebanyakan tanpa nalar dan sikap kritis. Inilah varises yang menyerang pembuluh peradaban dan kemanusiaan. Bahkan di sini, di dalam rumah kita, benda-benda telah menjadi rujukan utama dalam menyikapi kehidupan. Ukuran mulia dan hina telah terjenjang dalam besaran materi.
Logika untung-rugi inilah salah satu urat hidup jahiliah. Dalam sejarah, ia menjangkiti para pemuka dan pemimpin kaum. Karena logika ini, Fir’aun menuduh Musa ingin merebut kekuasaannya. Atas nalar yang sama, Nuh, Huud, Shalih dan yang lainnya tertuduh menjadi penghasut golongan lemah dan hina untuk mengancam stabilitas ‘negeri yang damai’. Dengan logika untung-rugi ini jugalah Abu Lahab, seperti Abu Jahl jauh dari kebodohan dalam makna asosiatif yang melekat dalam benak kita, menentang ajaran Rasul.
Berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Like a butterfly. Hati—hatilah jika ia sempat bertelur di lekuk-lekuk otak, maka ia menjadi teori-teori ilmiah, riset-riset empiris, dan subjektivitas yang diobjektivitaskan. Dan disembah.
Berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Like a butterfly. Hati—hatilah jika ia sempat bertelur di labirin hati. Jadilah ia berhala terbesar yang akan bertahta dalam jiwa. Namanya, hawa nafsu. Dan disembah.
Generasi awal kemunafikan menganggap imannya para sahabat adalah iman orang-orang bodoh. Dan kita saksikan masa kininya menganggap orang-orang yang ingin menegakkan keimanan utuh sebagaimana para sahabat, iman yang kaffah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai orang-orang kolot dan primitif yang bodoh terhadap perkembangan zaman.
Matarantai jahiliah ini akan terus membentang sepanjang sejarah. Rasio bebas dan mistisme, kedua gejala ini adalah jahiliah yang menyusup. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan oleh ‘Umar ibn Al-kaththab pada hadits diatas. Semua ini dihubungkan oleh satu benang merah :syirk. Semua kehancuran bermuasal dari satu hal:jahiliah.
“Dijadikan dunia ini indah bagi mereka,
lalu mereka berhenti pada batasnya,
terantuk,
tak mampu melampauinya, tak kuasa menembusnya.”
(Sayyid Quthb)
Salim A. Fillah
Minggu, 07 Agustus 2011
Orang-Orang yang "Jijik" Dengan Popularitas
Assalamu'alaikum wr wb.
wassalammu'alaikum wr. wb.
Semoga judul diatas tepat untuk mewakili artikel yang ana buat dari sebuah buku yang sungguh luar biasa (menurut ana)berjudul “Orang-Orang yang Tidak Suka Popularitas”.
Itulah hati-hati yang tidak pernah melirik dunia dan menginginkan kedudukan duniawi, yang tidak pernah memikirkan posisinya dijalan dakwah, didepan atau dibelakang, selagi mereka tetap berada pada jalan dakwah tersebut untuk terus menyeru kalimat ALLAH.
Sajaf bin Manzhur bercerita : saya pernah menemui Rabi’ah saat dia sedang bersujud. Ketika ia merasakan kedatanganku, maka ia mengangkat kepalanya. Ternyata tempat sujudnya seperti genangan air karena air matanya.
Maka dia menghadapku seraya bertanya: “ Anakku,ada perlu apa kamu kemari?”
Saya jawab: “Saya datang untuk mengucapkan salam kepadamu.”
Kata Sajaf: maka dia menangis sambil ucapkan: “Ya ALLAH, aku mohon Engkau menutupiku, aku mohon Engkau menutupiku.”
Satu dari sekian banyak contoh perilaku akhfiya’. Al-akhfiya’ atau orang-orang yang tidak suka popularitas, yang merahasiakan dirinya adalah mereka yang kalau boleh ana bilang orang-orang yang “pandai” menyembunyikan segala amalan-amalan kebaikannya sebagaimana kalau kita menyembunyikan/menutupi keburukkan kita. Mereka (akhfiya’) sadar betul bahwa segala amalan-amalan yang mereka lakukan tidak akan diterima oleh ALLAH jika dalam melakukan amalan-amalan tersebut hati kita masih terdapat riya’ atau penyakit-penyakit hati lainnya. Sebagaimana syarat diterimanya suatu amalan yaitu tauhid, ikhlas dan sesuai dengan ajaran rasul.
- Kalau boleh diibaratkan amalan tanpa landasan tauhid (Islam) maka amalan itu bagaikan debu yang berterbangan, kita tak bisa menggenggamnya.
- Sedangkan amal tanpa ikhlas maka semua itu hanya mirip batu besar yang ditimpa hujan lebat sehingga bersih dan licin dan tidak menyisakan tanah sedikit pun (artinya tidak meninggalkan nilai setitik pun di sisi ALLAH). ALLAH berfirman:
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir."(Al-Baqarah [2]:264)
- Dan amal tanpa contoh dari rasul maka amalannya akan tertolak.
Sebagaimana sabda Rasulullah: “Barangsiapa beramal bukan berdasarkan perintah kami (contoh/sunnah kami) maka amalannya itu tertolak (tidak diterima Alloh Subhanahu wa Ta'ala)” [HR Bukhari no.2697, Muslim no.1718, dan Ahmad 6/73, 240, 270].
Yang menjadi poin penting disini bagi para akhfiya’ adalah poin nomor 2, ikhlas. Demikian menakjubkannya, amal tersembunyi karena ikhlas kepada ALLAH Ta’ala, hingga ALLAH ‘Azza wa Jalla menjadikan pelakunya sebagai 2 golongan dari 7 golongan yang akan mendapat naungan ALLAH pada hari kiamat.
Rasulullah bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam keta’atan kepada Allah ‘azza wa jalla, (3) orang yang hatinya senantiasa tertambat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, (5) laki-laki yang dirayu oleh wanita yang cantik dan berkedudukan, namun ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ (6) orang yang bersedekah dengan merahasiakan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang berdzikir kepada Allah di kala sendirian, lalu berlinanglah air matanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, akhfiya’ sangatlah tidak suka jika amalan rahasianya dengan ALLAH diketahui oleh orang lain, mereka takut menjadi populer lalu timbullah riya’, sum’ah atau pun yang sejenisnya sehingga amalan rahasia yang seharusnya hanya ALLAH dan dia yang tahu menjadi rusak. Jika amalnya diketahui orang lain, mereka akan langsung berusaha menutupinya bahkan sangat menyesal sehingga memohon kepada ALLAH agar menutupinya. Hal ini sangat berbeda sekali di zaman sekarang ini. Kondisi yang sebaliknya ini sudah mulai melanda masyarakat saat ini. Di sekeliling kita meruyak penyakit riya, sum’ah, gemar pujian, ingin tenar, dan lain-lain(astagfirullah, semoga kita dihindarkan ALLAH dari segala macam penyakit hati).
Namun disini kita jangan sampai salah mengartikan akhfiya’ itu sendiri hingga berpikir untuk mengucilkan diri dari masyrakat. Akhfiya’ juga bergaul dengan masyarakat sekitar tetapi mungkin mereka tidak terlihat menonjol, mereka biasa menampakkan dirinya sesuai dengan kondisi masyarakatnya, tidak akan memperlihatkan amalan-amalannya kecuali hal itu mengandung kemaslahan agama. Jangan sampai kita berpikir bahwa akhfiya’ tidak pernah bergaul dengan masyarakat karena sesungguhnya banyak sekali amalan-amalan yang bisa dilakukan tanpa diketahui oarang lain (secara rahasia) sehingga tidak perlu mengorbankan kehidupan sosial atau bahkan jadi alasan untuk akbur dari kewajiban.
Karena akhfiya’ adalah orang-orang yang merahasiakan dirinya, jadi janganlah kita menghina/meremehkan sebagian muslim lainnya, siapa tahu yang dihina/diremehkan itu lebih baik daripada yang menghina. Allah berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujaraat [49]:11).
Atau bahkan yang dihina mungkin akhfiya’ yang kedudukannya tinggi karena mereka memiliki rahasia dengan ALLAH ‘Azza wa Jalla. Nabi shallalluhu alaihi wa sallam bersabda, “Boleh jadi orang yang kusut rambutnya, tampak berdebu, diusir dari depan pintu-pintu, dan tidak diperdulikan orang, kalau dia bersumpah demi ALLAH, justru ALLAH benar-benar mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim dalam kitab al-Birr wash-Shilah, bab Fadhludh-Dhu’afa wal-Khamilin, 3/2024 no. 2622). Jadi berhati-hatilah dalam segala perbuatan kita, janganlah menilai seseorang dari penampilan fisik saja.
Semoga bermanfaat, yang benar datangnya dari ALLAH 'Azza wa Jalla Rabb semesta alam dan yang salah datangnya dari ana pribadi. Semoga perkataan dari Imam al-Jailani ini menjadi penggugah hati ini.
Imam al-Jailani berkata kepada muridnya: “Beramallah kamu dengan ikhlas, lalu jangan pedulikan lagi amal itu. Secara garis besar, amalmu tidak akan ada yang diterima, kecuali yang kamu niatkan untuk memperoleh ridha ALLAH, bukan keridhaan makhluk. Adalah kurang ajar bila kamu beramal demi makhluk tapi kamu ingin amalan diterima ALLAH ‘Azza wa Jalla. Ini adalah suatu kegilaan darimu.”
wassalammu'alaikum wr. wb.
Jumat, 22 Juli 2011
Partisipasi -karena semua berawal dari sini-
Ijinkan aku berbicara tentang makna kecil partisipasi kita. Mungkin adalah peserta atau juga bahkan adalah pengisi, ataupun sekedar oranng yang pernah melihat dan menemui fenomena seperti ini, di zaman ini:
“... Ketika beliau keluar tiba-tiba beliau dapati para sahabat duduk dalam halaqah (lingkaran). Beliau bertanya, “Apakah mendorong kalian duduk seperti ini?”. Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk Islam.”
Maka Rasulullah bertanya, “Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab,”Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat.” (HR Muslim dari Mu’awiyah)
Di tempat inilah disambung keteladanan sejarah. Di forum seperti yang dicontohkan para sahabat, para guraba’(orang-orang yang terasing) masa kini mewujudkan sabda Nabi bahwa mu’min itu cermin bagi mu’min yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang perkembangan tilawah Al-Qur’an dan hafalannya, tentang shalat malamnya, dan tentang puasa sunnahnya. Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal-amalnya. Ia jadi malu mendapati dirinya tak bisa mengatur waktu.
Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah satu sahabatnya mendapat nilai A. Mereka saling berbagi masalah agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah-amanah da’wahnya yang katanya semakin mengasyikkan, atau semakin menantang. Yang berkeluasan rizqi membawakan pisang goreng, atau mangga yang dipetik dari halaman rumahnya.
Sesekali mereka ganti setting forumnya, dengan menginap atau memasak agar bisa lebih panjang bercengkerama. Lalu mereka dirikan Qiyamullail bersama. Pernah juga mereka lakukan wisata. Mereka bertemu di tempat rekreasi yang sepi, mengingat Ilahhi dan mengagumi kebesaran ciptaan-Nya. Mereka berdiskusi disaksikan air terjun, atau pasir memutih diterpa gelombang.
Tentu saja yang lebih utama, mereka mengingat Allah dalam sebuah kumpulan, agar Allah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al-Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah Subhanahu Ta’ala. Tidak ada tekad ketikabubar dan saling mendoakan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal nyata.
“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajari di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada merekka, rahmat meliputi majelisnya, Malaikat mebaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR Muslim, dari Abu Hurairah)
Di sana bisa kita jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanallah... Ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Saya tak ragu-ragu lagi menyebut forum yang terkenal dengan kata liqa’at (pertemuan) ini, sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.
Akal sehat para peserta liqa’at menuntun mereka untuk menghayati bahwa majelis ini adalah bagian paling asasi dari hidup mereka. Ada waktu yang harus diprioritaskan untuknya lebih dari segala aktivitas lainnya. Kaidah jelas: kalau ia tak bersama mereka, ia takkan bersama siapa-siapa; kalau mereka tak bersama dengannya, mereka pasti bersama dengan orang selain dia.
Kadang kita tak merasakan nikmatnya majelis kebersamaan ini. Padahal, orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti menghadirinya untuk suatu waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.
Salim A. Fillah
Kamis, 21 Juli 2011
Acid Black Cherry - Sleeping Beauty
With the smile you always gave to me, I was able to become a little stronger
Show me your laugh once more
Hey, your long eyelashes, your hair that falls down your back, it's beautiful
Hey, the dimples that appear when you laugh, and your crowded front teeth, really are adorable
Hey, I want to touch the heart reflected in the depths of your gentle eyes
Hey, I still want to know now the reason for the tears you cried that day
Let me hear your voice just a little...show me the world you're seeing
With the smile you always gave to me, I was able to become a little stronger
I loved the joy in your face when you said "I love you"
More than the miracle of the two of us being reborn someday and meeting again
The time I have with you now is special
Show me your laugh once more
Hey, since the fragrance of the sunlight is coming in, I'll open the window a little, okay?
Hey, even though I can do nothing for you, don't let go of my hand
Can you hear me? I'm right here... Can you feel me? I'm right here with you
With the smile you always gave to me, I was able to become a little stronger
This time, I want to be the one to make your smile bloom
With the words we loved most of all
When I say "I love you", I can't cry, right?
Since it's okay for me to show it in a roundabout way
With the smile you gave to me, I was able to become a little stronger
How many times did you take my hand, saying, "I love you, I love you, I love you"
Show me your laugh once more
Hey, your long eyelashes, your hair that falls down your back, it's beautiful
Hey, I could see you embraced by the wind, a slight smile on your face
Let me hear your voice just a little...let me hear your voice just a little
Show me your laugh once more
Hey, your long eyelashes, your hair that falls down your back, it's beautiful
Hey, the dimples that appear when you laugh, and your crowded front teeth, really are adorable
Hey, I want to touch the heart reflected in the depths of your gentle eyes
Hey, I still want to know now the reason for the tears you cried that day
Let me hear your voice just a little...show me the world you're seeing
With the smile you always gave to me, I was able to become a little stronger
I loved the joy in your face when you said "I love you"
More than the miracle of the two of us being reborn someday and meeting again
The time I have with you now is special
Show me your laugh once more
Hey, since the fragrance of the sunlight is coming in, I'll open the window a little, okay?
Hey, even though I can do nothing for you, don't let go of my hand
Can you hear me? I'm right here... Can you feel me? I'm right here with you
With the smile you always gave to me, I was able to become a little stronger
This time, I want to be the one to make your smile bloom
With the words we loved most of all
When I say "I love you", I can't cry, right?
Since it's okay for me to show it in a roundabout way
With the smile you gave to me, I was able to become a little stronger
How many times did you take my hand, saying, "I love you, I love you, I love you"
Show me your laugh once more
Hey, your long eyelashes, your hair that falls down your back, it's beautiful
Hey, I could see you embraced by the wind, a slight smile on your face
Let me hear your voice just a little...let me hear your voice just a little
Acid Black Cherry - Jigsaw
Humans full of their greed Make no sacrifices.
Giving's never a deed They want more than they need.
Humans are so sinful Acts like they love justice.
Hold grudge against the others They hold none for themselves.
Forfeit a blessed life You threat to take your life.
Waste blood to drag people's eyes (But) hesitate to follow through.
Not knowing life as a matter A child conceiving another.
Conceiving just to smother How can you still stay alive?
If you're alive now. Tell me your voice, your truth. If you are not lying...
I'm dreaming a nightmare Can it be that your love is for yourself Tell me that I am wrong.
I'm dreaming a nightmare Your love's not for the ones you say you love Admit it, it's for yourself.
Humans they are all weak They hate going through pain.
Don't love, you only feign To justify their misdeeds.
For the weak you claim to fight But the cry is just a guise.
Your own sins you just deny Who are you to judge a crime?
You lecture animal rights (And) Consume their flesh in delight.
For Earth you'd put up a fight (But) Harm from burning never ends
]I'm dreaming a nightmare Can it be that your love is for yourself? Tell me that I am wrong.
I'm dreaming a nightmare You just love yourself, acting like the good Tell me that I am wrong.
I want to play my game Can you sacrifice your soul, fame and pride? In the name of justice.
I want to play my game Can you sacrifice love for righteousness? Are you not so sure now?.
That's what makes humans so weak.
If you're alive now. Tell me your voice, your truth. If you are not lying...
I'm dreaming a nightmare Can it be that your love is for yourself Tell me that I am wrong.
I'm dreaming a nightmare Your love's not for the ones you say you love Admit it, it's for yourself.
I want to play my game Can you sacrifice (your) future, soul and gold? For the ones that you love.
I want to play my game Can you stand for love? As you turn your back, back against righteousness.
I know I can't, I'm only human
Senin, 04 Juli 2011
Kontribusi
“Lakukan segala apa yang mampu kalian amalkan. Sesungguhnya Allah tidak jemu sampai kalian sendiri merasa jemu”
Ada banyak hal yang belum kita tahu.
Ada banyak keterampilan yang belum kita bisa.
Ada banyak wawasan yang terlewatkan.
Ada ribuan buku yang terbit tiap hari.
Ada milyaran manusia yang belum kita kenal.
Ada jutaan tempat yang belum kita kunjungi.
Ada banyak kata yang belum sempat terucap dan tersampaikan.
Ada banyak buah pikiran yang belum tersalurkan.
Ada banyak ide dan rancang karya yang belum kita wujudkan.
Tapi demi ALLAH, ada banyak ilmu yang belum kita amalkan.....
secarik kertas dari buku Saksikan Bahwa Aku Adalah Seorang Muslim
Minggu, 09 Januari 2011
Sanggupkah Kita????
Ingatlah!
Ujian yang kita jalani saat ini jauh lebih rendah bobotnya dibanding ujian-ujian orang-orang terdahulu, bayangkanlah....
sanggupkah jika kita diminta menyembelih anak sendiri?
sanggupkah jika kita diusir, dibuang ke hutan, dan diceburkan ke sumur oleh saudara kandung sendiri, oleh kakak-kakak kita yang seharusnya melindungi kita?
sanggupkah jika kita diberi penyakit yang menjijikan dan kita harus tetap berdakwah?
sanggupkah kita untuk tetap mengatakan Allah subhanahu wa ta'ala adalah Tuhan yang satu saat kita dibakar dipadang pasir yang terik dan ditimpa batu besar hingga panasnya sampai ke tulang sum-sum?
sanggupkah jika kita melihat ayah kita terputus badannya ditarik kuda-kuda oleh pasukan kafir? lalu ibu kita dihujam tombak pada sekujur tubuhnya?
atau bahkan sanggupkah jika kita harus tetap tersenyum saat dicaci, dilempari kotoran, dilempari batu-batu, diludahi, atau bahkan dipanggil ‘si gila’?
SANGGUPKAH KITA?
Ujian yang kita jalani saat ini jauh lebih rendah bobotnya dibanding ujian-ujian orang-orang terdahulu, bayangkanlah....
sanggupkah jika kita diminta menyembelih anak sendiri?
sanggupkah jika kita diusir, dibuang ke hutan, dan diceburkan ke sumur oleh saudara kandung sendiri, oleh kakak-kakak kita yang seharusnya melindungi kita?
sanggupkah jika kita diberi penyakit yang menjijikan dan kita harus tetap berdakwah?
sanggupkah kita untuk tetap mengatakan Allah subhanahu wa ta'ala adalah Tuhan yang satu saat kita dibakar dipadang pasir yang terik dan ditimpa batu besar hingga panasnya sampai ke tulang sum-sum?
sanggupkah jika kita melihat ayah kita terputus badannya ditarik kuda-kuda oleh pasukan kafir? lalu ibu kita dihujam tombak pada sekujur tubuhnya?
atau bahkan sanggupkah jika kita harus tetap tersenyum saat dicaci, dilempari kotoran, dilempari batu-batu, diludahi, atau bahkan dipanggil ‘si gila’?
SANGGUPKAH KITA?
Stres, Apaan Tuh???
Hati merupakan sumber kekuatan diri.
Ketika tidak dapat menata hati dengan baik maka
gejolak masalah yang menghadang dapat menjadi
pemicu timbulnya rasa tertekan.
Tanpa disadari, stres yang kita alami kadang-kadang terjadi karena kita terlali banyak berpikir buruk. Apabila pikiran buruk sudah mulai membanjiri diri, tarik nafas panjang dan yakinlah diri sendiri bahwa pikiran itu nggak selalu jadi kenyataan.
Orang yang stres kerapkali melihat dirinya sendiri, dia tak punya teman yang bisa diajak berbagi rasa dan meyakini bahwa dirinya memang stres. Jika kita tidak mengubah keyakinan, maka tidak ada yang berubah dari itu.
Pikiran dan sikap sangat berpengaruh terhadap keadaan. Dengan mengkonstruksi pikiran setahap demi setahap dan mengerahkannya sesuai dengan apa yang diinginkan, kita dapat memengaruhi keadaan buruk menjadi lebih baik. Percaya deh!
Ini adalah beberapa trik sederhana agar kita dapat menghindari sekaligus mengatasi stres.
1. Jangan pernah menganggap kita terkena stres
Anggap aja stres adalah bagian dari sirkulasi udara yang akan bergantian keluar masuk dalam diri kita. Jika ada tarikan nafas, pasti akan ada embusan. Biarkan stres itu mengalir apa adanya tak perlu terlalu dipikirkan. Tekanan hidup memang selalu dilalui tiap orang, solusi terbaik adalah cara diri kita melaluinya. Dalam banyak kasus, sugesti justru yang paling kerap memperparah keadaan. Kita harus yakin bahwa stres itu akan berakhier, dan kita akan kembali tenang seperti sedia kala.
2. Jangan pernah merasa sendirian
Ada banyak orang yang menyayangi diri kita, selain itu kita harus selalu yakin bahwa Allah merupakan pendamping setia dalam setiap langkah.
3. Cobalah mencoba menganalisa penyebab stres kita
Cara kita menganalisa penyebab stres akan membantu kita untuk akhirnya bisa memecahkan letak akar masalah. Catatlah history perjalanan kita hingga akhirnya stres itu muncul. Setelah itu bersegeralah untuk menyelesaikan titik persoalan tiu dan jangan terlalu lama terguncang, hidup terus mengalir seperti air.
Sebenarnya tak seorang pun, walaupun sangat ahli dapat menolong orang yang stres. Orang lain hanyalah perantara untuk memudahkan kita, menemukan penolong sesungguhnya dalam diri kita . jadi, yang dapat menolong diri kita ya hanya diri sendiri.
Bila cobaan hadir di dalam hidup, maka kita akan menanggapinya menurut kebiasaan berpikir kita. Bila keyakinan dalam diri tidak diubah, semua bantuan dan nasihat dari orang lain tidak akan banyak membantu. Jadi, mulailah ubah cara berpikir kita ketika menyikapi suatu masalah.
"Ya Allah, aku adukan kepada-Mu kelemahan, kekuatanku, dan sedikit usahaku."
Ketika tidak dapat menata hati dengan baik maka
gejolak masalah yang menghadang dapat menjadi
pemicu timbulnya rasa tertekan.
Tanpa disadari, stres yang kita alami kadang-kadang terjadi karena kita terlali banyak berpikir buruk. Apabila pikiran buruk sudah mulai membanjiri diri, tarik nafas panjang dan yakinlah diri sendiri bahwa pikiran itu nggak selalu jadi kenyataan.
Orang yang stres kerapkali melihat dirinya sendiri, dia tak punya teman yang bisa diajak berbagi rasa dan meyakini bahwa dirinya memang stres. Jika kita tidak mengubah keyakinan, maka tidak ada yang berubah dari itu.
Pikiran dan sikap sangat berpengaruh terhadap keadaan. Dengan mengkonstruksi pikiran setahap demi setahap dan mengerahkannya sesuai dengan apa yang diinginkan, kita dapat memengaruhi keadaan buruk menjadi lebih baik. Percaya deh!
Ini adalah beberapa trik sederhana agar kita dapat menghindari sekaligus mengatasi stres.
1. Jangan pernah menganggap kita terkena stres
Anggap aja stres adalah bagian dari sirkulasi udara yang akan bergantian keluar masuk dalam diri kita. Jika ada tarikan nafas, pasti akan ada embusan. Biarkan stres itu mengalir apa adanya tak perlu terlalu dipikirkan. Tekanan hidup memang selalu dilalui tiap orang, solusi terbaik adalah cara diri kita melaluinya. Dalam banyak kasus, sugesti justru yang paling kerap memperparah keadaan. Kita harus yakin bahwa stres itu akan berakhier, dan kita akan kembali tenang seperti sedia kala.
2. Jangan pernah merasa sendirian
Ada banyak orang yang menyayangi diri kita, selain itu kita harus selalu yakin bahwa Allah merupakan pendamping setia dalam setiap langkah.
3. Cobalah mencoba menganalisa penyebab stres kita
Cara kita menganalisa penyebab stres akan membantu kita untuk akhirnya bisa memecahkan letak akar masalah. Catatlah history perjalanan kita hingga akhirnya stres itu muncul. Setelah itu bersegeralah untuk menyelesaikan titik persoalan tiu dan jangan terlalu lama terguncang, hidup terus mengalir seperti air.
Sebenarnya tak seorang pun, walaupun sangat ahli dapat menolong orang yang stres. Orang lain hanyalah perantara untuk memudahkan kita, menemukan penolong sesungguhnya dalam diri kita . jadi, yang dapat menolong diri kita ya hanya diri sendiri.
Bila cobaan hadir di dalam hidup, maka kita akan menanggapinya menurut kebiasaan berpikir kita. Bila keyakinan dalam diri tidak diubah, semua bantuan dan nasihat dari orang lain tidak akan banyak membantu. Jadi, mulailah ubah cara berpikir kita ketika menyikapi suatu masalah.
"Ya Allah, aku adukan kepada-Mu kelemahan, kekuatanku, dan sedikit usahaku."
Langganan:
Postingan (Atom)




