Semoga judul diatas tepat untuk mewakili artikel yang ana buat dari sebuah buku yang sungguh luar biasa (menurut ana)berjudul “Orang-Orang yang Tidak Suka Popularitas”.
Itulah hati-hati yang tidak pernah melirik dunia dan menginginkan kedudukan duniawi, yang tidak pernah memikirkan posisinya dijalan dakwah, didepan atau dibelakang, selagi mereka tetap berada pada jalan dakwah tersebut untuk terus menyeru kalimat ALLAH.
Sajaf bin Manzhur bercerita : saya pernah menemui Rabi’ah saat dia sedang bersujud. Ketika ia merasakan kedatanganku, maka ia mengangkat kepalanya. Ternyata tempat sujudnya seperti genangan air karena air matanya.
Maka dia menghadapku seraya bertanya: “ Anakku,ada perlu apa kamu kemari?”
Saya jawab: “Saya datang untuk mengucapkan salam kepadamu.”
Kata Sajaf: maka dia menangis sambil ucapkan: “Ya ALLAH, aku mohon Engkau menutupiku, aku mohon Engkau menutupiku.”
Satu dari sekian banyak contoh perilaku akhfiya’. Al-akhfiya’ atau orang-orang yang tidak suka popularitas, yang merahasiakan dirinya adalah mereka yang kalau boleh ana bilang orang-orang yang “pandai” menyembunyikan segala amalan-amalan kebaikannya sebagaimana kalau kita menyembunyikan/menutupi keburukkan kita. Mereka (akhfiya’) sadar betul bahwa segala amalan-amalan yang mereka lakukan tidak akan diterima oleh ALLAH jika dalam melakukan amalan-amalan tersebut hati kita masih terdapat riya’ atau penyakit-penyakit hati lainnya. Sebagaimana syarat diterimanya suatu amalan yaitu tauhid, ikhlas dan sesuai dengan ajaran rasul.
- Kalau boleh diibaratkan amalan tanpa landasan tauhid (Islam) maka amalan itu bagaikan debu yang berterbangan, kita tak bisa menggenggamnya.
- Sedangkan amal tanpa ikhlas maka semua itu hanya mirip batu besar yang ditimpa hujan lebat sehingga bersih dan licin dan tidak menyisakan tanah sedikit pun (artinya tidak meninggalkan nilai setitik pun di sisi ALLAH). ALLAH berfirman:
"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir."(Al-Baqarah [2]:264)
- Dan amal tanpa contoh dari rasul maka amalannya akan tertolak.
Sebagaimana sabda Rasulullah: “Barangsiapa beramal bukan berdasarkan perintah kami (contoh/sunnah kami) maka amalannya itu tertolak (tidak diterima Alloh Subhanahu wa Ta'ala)” [HR Bukhari no.2697, Muslim no.1718, dan Ahmad 6/73, 240, 270].
Yang menjadi poin penting disini bagi para akhfiya’ adalah poin nomor 2, ikhlas. Demikian menakjubkannya, amal tersembunyi karena ikhlas kepada ALLAH Ta’ala, hingga ALLAH ‘Azza wa Jalla menjadikan pelakunya sebagai 2 golongan dari 7 golongan yang akan mendapat naungan ALLAH pada hari kiamat.
Rasulullah bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang mendapat naungan Allah pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dalam keta’atan kepada Allah ‘azza wa jalla, (3) orang yang hatinya senantiasa tertambat dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena Allah, (5) laki-laki yang dirayu oleh wanita yang cantik dan berkedudukan, namun ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah,’ (6) orang yang bersedekah dengan merahasiakan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, dan (7) orang yang berdzikir kepada Allah di kala sendirian, lalu berlinanglah air matanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, akhfiya’ sangatlah tidak suka jika amalan rahasianya dengan ALLAH diketahui oleh orang lain, mereka takut menjadi populer lalu timbullah riya’, sum’ah atau pun yang sejenisnya sehingga amalan rahasia yang seharusnya hanya ALLAH dan dia yang tahu menjadi rusak. Jika amalnya diketahui orang lain, mereka akan langsung berusaha menutupinya bahkan sangat menyesal sehingga memohon kepada ALLAH agar menutupinya. Hal ini sangat berbeda sekali di zaman sekarang ini. Kondisi yang sebaliknya ini sudah mulai melanda masyarakat saat ini. Di sekeliling kita meruyak penyakit riya, sum’ah, gemar pujian, ingin tenar, dan lain-lain(astagfirullah, semoga kita dihindarkan ALLAH dari segala macam penyakit hati).
Namun disini kita jangan sampai salah mengartikan akhfiya’ itu sendiri hingga berpikir untuk mengucilkan diri dari masyrakat. Akhfiya’ juga bergaul dengan masyarakat sekitar tetapi mungkin mereka tidak terlihat menonjol, mereka biasa menampakkan dirinya sesuai dengan kondisi masyarakatnya, tidak akan memperlihatkan amalan-amalannya kecuali hal itu mengandung kemaslahan agama. Jangan sampai kita berpikir bahwa akhfiya’ tidak pernah bergaul dengan masyarakat karena sesungguhnya banyak sekali amalan-amalan yang bisa dilakukan tanpa diketahui oarang lain (secara rahasia) sehingga tidak perlu mengorbankan kehidupan sosial atau bahkan jadi alasan untuk akbur dari kewajiban.
Karena akhfiya’ adalah orang-orang yang merahasiakan dirinya, jadi janganlah kita menghina/meremehkan sebagian muslim lainnya, siapa tahu yang dihina/diremehkan itu lebih baik daripada yang menghina. Allah berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujaraat [49]:11).
Atau bahkan yang dihina mungkin akhfiya’ yang kedudukannya tinggi karena mereka memiliki rahasia dengan ALLAH ‘Azza wa Jalla. Nabi shallalluhu alaihi wa sallam bersabda, “Boleh jadi orang yang kusut rambutnya, tampak berdebu, diusir dari depan pintu-pintu, dan tidak diperdulikan orang, kalau dia bersumpah demi ALLAH, justru ALLAH benar-benar mengabulkan sumpahnya.” (HR. Muslim dalam kitab al-Birr wash-Shilah, bab Fadhludh-Dhu’afa wal-Khamilin, 3/2024 no. 2622). Jadi berhati-hatilah dalam segala perbuatan kita, janganlah menilai seseorang dari penampilan fisik saja.
Semoga bermanfaat, yang benar datangnya dari ALLAH 'Azza wa Jalla Rabb semesta alam dan yang salah datangnya dari ana pribadi. Semoga perkataan dari Imam al-Jailani ini menjadi penggugah hati ini.
Imam al-Jailani berkata kepada muridnya: “Beramallah kamu dengan ikhlas, lalu jangan pedulikan lagi amal itu. Secara garis besar, amalmu tidak akan ada yang diterima, kecuali yang kamu niatkan untuk memperoleh ridha ALLAH, bukan keridhaan makhluk. Adalah kurang ajar bila kamu beramal demi makhluk tapi kamu ingin amalan diterima ALLAH ‘Azza wa Jalla. Ini adalah suatu kegilaan darimu.”
wassalammu'alaikum wr. wb.
