Selasa, 06 September 2011

Memberi Tanpa Pertimbangan

Cobalah untuk mengawali hari anda dengan niat untuk memberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil dan tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan uang receh yang tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan: diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga. Atau, anda sedang berada di mobil ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta. Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keeping kepada mereka.

Barangkali ada rasa enggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorangpun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang “berlatih” memberi; mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti? Rasakan saja, kini sesuatu mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.

Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya bukan receh atau berlian yang anda berikan. Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.

Sabtu, 03 September 2011

Kain - Kain Rombeng

Allah telah mengajarkan kita untuk bersyukur, satu kata yang jauh lebih luas maknanya daripada terimakasih. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
“Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu persatu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal jahiliah.” (‘Umar ibn Al-Kaththab)
Jahiliah, kata ini begitu identik dengan buta huruf, tidak kenal etika, kemiskinan, keterbelakangan. Tapi jika kita mengenal Abu Jahl, si biang kejahilan pada masa Rasulullah, sangat tidak sesuai dengan kata-kata diatas. Abu Jahl adalah seseorang yang memiliki kedudukan di pemerintahan kota mekkah, sangat jauh dari keterbelakang ataupun kebodohan. Dan tidak mungkin orang tuanya memberikan nama begitu buruk kepada anaknya. Jadi, mengapa ia lebih terkenal  sebagai Abu Jahl?

Yup, ternyata definisi jahiliah yang menjadi sasaran da’wah para rasul adalah untuk diangkat dari kegelapan menuju cahaya tidak terkait langsung dengan buta huruf, kemiskinan, keterbelakangan. Not that!  Jahiliah telah menemukan jati dirinya sebagai penyakit yang menjangkiti keyakinan. Ia adalah rabun yang mengacaukan pandangan terhadap hakikat kehidupan, kemanusiaan dan peribadahan.

Jahiliah bisa lahir dari rahim ketidaktahuan yang diiringi oleh persangkaan. Dari kedunguan dan logika yang dipaksakan. Dari kesalahpahaman yang terwarisi. Tapi tak jarang jahiliah bersumber dari oknum berpengetahuan yang sombong dan gengsi atau kekuasaan menindas yang tak ingin kehilangan posisi. Seperti kecurangan ekonomi pada kaum Syu’aib penduduk Aikah, penyimpangan seksual penduduk Sodom, Fir’aun yang semene-mena, kekayaan yang melenakan Qarun dan masih banyak lagi. 

Okay, ini bukan soal pemenuhan kebutuhan. Karena kini orientasi massa telah diubah dari need kepada want. Dan celakanya, terkadang kita tidak bisa membedakan antara need dan  want. Bukan soal punya uang atau tidak punya uang. Ini soal eksploitasi –ekonomi, budaya, bahkan politik- terhadap konsumen dengan imaji-imaji sesat. Iklan telah mengajarkan bahwa wanita dihargai hanya sebatas kilau rambut, kemulusan wajah, dan putihnya kulit. Iklan telah mendidik kita untuk menstandarkan kebenaran pada penilaian manusia kebanyakan tanpa nalar dan sikap kritis. Inilah varises yang menyerang pembuluh peradaban dan kemanusiaan. Bahkan di sini, di dalam rumah kita, benda-benda telah menjadi rujukan utama dalam menyikapi kehidupan. Ukuran mulia dan hina telah terjenjang dalam besaran materi.

Logika untung-rugi inilah salah satu urat hidup jahiliah. Dalam sejarah, ia menjangkiti para pemuka dan pemimpin kaum. Karena logika ini, Fir’aun menuduh Musa ingin merebut kekuasaannya. Atas nalar yang sama, Nuh, Huud, Shalih dan yang lainnya tertuduh menjadi penghasut golongan lemah dan hina untuk mengancam stabilitas ‘negeri yang damai’. Dengan logika untung-rugi ini jugalah Abu Lahab, seperti Abu Jahl jauh dari kebodohan dalam makna asosiatif yang melekat dalam benak kita, menentang ajaran Rasul.

Berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Like a butterfly. Hati—hatilah jika ia sempat bertelur di lekuk-lekuk otak, maka ia menjadi teori-teori ilmiah, riset-riset empiris, dan subjektivitas yang diobjektivitaskan. Dan disembah.

Berhala-berhala itu bermetamorfosis. Sempurna. Like a butterfly. Hati—hatilah jika ia sempat bertelur di labirin hati. Jadilah ia berhala terbesar yang akan bertahta  dalam jiwa. Namanya, hawa nafsu. Dan disembah.

Generasi awal kemunafikan menganggap imannya para sahabat adalah iman orang-orang bodoh. Dan kita saksikan masa kininya menganggap orang-orang yang ingin menegakkan keimanan utuh sebagaimana para sahabat, iman yang kaffah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, sebagai orang-orang kolot dan primitif yang bodoh terhadap perkembangan zaman.

Matarantai jahiliah ini akan terus membentang sepanjang sejarah. Rasio bebas dan mistisme, kedua gejala ini adalah jahiliah yang menyusup. Oleh karena itu tepatlah apa yang dikatakan oleh ‘Umar ibn Al-kaththab pada hadits diatas. Semua ini dihubungkan oleh satu benang merah :syirk. Semua kehancuran bermuasal dari satu hal:jahiliah.

“Dijadikan dunia ini indah bagi mereka,
lalu mereka berhenti pada batasnya,
terantuk,
tak mampu melampauinya, tak kuasa menembusnya.”
(Sayyid Quthb)

Salim A. Fillah