Jumat, 22 Juli 2011

Partisipasi -karena semua berawal dari sini-


Ijinkan aku berbicara tentang makna kecil partisipasi kita. Mungkin adalah peserta atau juga bahkan adalah pengisi, ataupun  sekedar oranng yang pernah melihat dan menemui fenomena seperti ini, di zaman ini:

“... Ketika beliau keluar tiba-tiba beliau dapati para sahabat duduk dalam halaqah (lingkaran). Beliau bertanya, “Apakah mendorong kalian duduk seperti ini?”. Mereka menjawab, “Kami duduk berdzikir dan memuji Allah atas hidayah yang Allah berikan sehingga kami memeluk Islam.”
Maka Rasulullah bertanya, “Demi Allah, kalian tidak duduk melainkan untuk itu?” Mereka menjawab,”Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu-ragu, tetapi Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di depan para malaikat.” (HR Muslim dari Mu’awiyah)



Di tempat inilah disambung keteladanan sejarah. Di forum seperti yang dicontohkan para sahabat, para guraba’(orang-orang yang terasing) masa kini mewujudkan sabda Nabi bahwa mu’min itu cermin bagi mu’min yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang perkembangan tilawah Al-Qur’an dan hafalannya, tentang shalat malamnya, dan tentang  puasa sunnahnya. Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal-amalnya. Ia jadi malu mendapati dirinya tak bisa mengatur waktu.
Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah satu sahabatnya mendapat nilai A. Mereka saling berbagi masalah agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah-amanah da’wahnya yang katanya semakin mengasyikkan, atau semakin menantang. Yang berkeluasan rizqi membawakan pisang goreng, atau mangga yang dipetik dari halaman rumahnya.

Sesekali mereka ganti setting forumnya, dengan menginap  atau memasak agar bisa lebih panjang bercengkerama. Lalu mereka dirikan Qiyamullail bersama. Pernah juga mereka lakukan wisata. Mereka bertemu di tempat rekreasi yang sepi, mengingat Ilahhi dan mengagumi kebesaran ciptaan-Nya. Mereka berdiskusi disaksikan air terjun, atau pasir memutih diterpa gelombang.
Tentu saja yang lebih utama, mereka mengingat Allah dalam sebuah kumpulan, agar Allah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al-Qur’an menyuruh mereka bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan Allah Subhanahu Ta’ala. Tidak ada tekad ketikabubar dan saling mendoakan, selain agar yang mereka bahas menjadi amal nyata.

“Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah-rumah Allah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajari di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada merekka, rahmat meliputi majelisnya, Malaikat mebaungi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka dengan bangga di depan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya” (HR Muslim, dari Abu Hurairah)

Di sana bisa kita jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi Subhanallah... Ini adalah cahaya yang bergetar di antara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan ummat dalam medium atmosfer cinta. Saya tak ragu-ragu lagi menyebut forum yang terkenal dengan kata liqa’at (pertemuan) ini, sebagai Getar Cahaya di Atmosfer Cinta.
Akal sehat para peserta liqa’at menuntun mereka untuk menghayati bahwa majelis ini adalah bagian paling asasi dari hidup mereka. Ada waktu yang harus diprioritaskan untuknya lebih dari segala aktivitas lainnya. Kaidah jelas: kalau ia tak bersama mereka, ia takkan bersama siapa-siapa; kalau mereka tak bersama dengannya, mereka pasti bersama dengan orang selain dia.
Kadang kita tak merasakan nikmatnya majelis kebersamaan ini. Padahal, orang lain akan melihat kita berubah dan semakin buruk saat kita berhenti menghadirinya untuk suatu waktu yang cukup lama. Memang, ia hanya sepekan sekali. Tetapi bagaimanapun kita tahu, majelis ini adalah majelis ‘ilmu dan dzikir yang tak berhenti sampai bubarnya lingkaran. Ketika mereka menutup pertemuan dan pergi untuk keperluan masing-masing, lingkaran itu hanya melebar. Ia melebar seluas aktivitas mereka.

Salim A. Fillah

1 komentar: